Kampus untuk Negeri: DEM Sumut Perkuat Peran Pemuda dalam Akselerasi Transisi Energi Berkelanjutan
Dari Kampus untuk Negeri: DEM Sumut Perkuat Peran Pemuda dalam Akselerasi Transisi Energi Berkelanjutan
SIGAPNEWS.CO.ID | MEDAN — Isu transisi energi tak lagi hanya bergulir di ruang-ruang rapat pemerintah dan industri. Di Sumatera Utara, perbincangan itu kini kian menguat dari kampus. Dewan Energi Mahasiswa (DEM) Sumatera Utara yang menggelar Talkshow Energi bertajuk “Future Energy Leader: SDM Unggul untuk Akselerasi Transisi Energi Berkelanjutan” di Universitas Negeri Medan (Unimed), Selasa (3/3/26) menghadirkan ratusan mahasiswa lintas perguruan tinggi dan narasumber dari sektor industri, akademik, hingga penggiat energi muda.
Forum ini menjadi penegasan posisi DEM Sumut sebagai katalis literasi dan kepemimpinan energi di tingkat mahasiswa, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam mengawal agenda transisi energi nasional menuju target Net Zero Emissions (NZE) 2060 dan bauran energi yang lebih bersih.
Acara dibuka oleh perwakilan Rektor Universitas Negeri Medan, Dr. Ainul Mardiyah, S.P., M.Si., yang mengapresiasi konsistensi DEM Sumut dalam membangun ruang diskusi ilmiah yang konstruktif di lingkungan kampus.
Menurutnya, keberadaan forum-forum energi yang digerakkan mahasiswa menjadi elemen penting dalam memperkuat pengawalan isu strategis nasional, khususnya di sektor energi dan lingkungan hidup.
“Upaya memasifkan diskursus energi di kampus bukan hanya membangun kesadaran, tetapi juga mendorong praktik transisi energi berkelanjutan yang selaras dengan agenda pembangunan nasional,” ujarnya.
Ia menilai, kampus memiliki posisi strategis sebagai laboratorium gagasan sekaligus inkubator kepemimpinan masa depan yang akan menentukan arah kebijakan energi Indonesia.
Sementara Presiden DEM Sumut, Muhammad Fahrozi Arif, dalam sambutannya menekankan bahwa Sumatera Utara merupakan wilayah dengan potensi sumber daya alam yang besar. Kondisi tersebut, menurutnya, membawa tanggung jawab moral bagi generasi muda untuk memastikan pengelolaan energi dilakukan secara adil dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat.
Ia merujuk pada amanat Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
“Pemerintah telah menetapkan berbagai target strategis, termasuk bauran energi nasional dan Net Zero Emissions 2060. Namun, target itu akan sulit tercapai tanpa kolaborasi lintas sektor dan kesiapan SDM yang unggul, berkapasitas, serta mampu membaca tantangan energi ke depan,” kata Fahrozi.
Ia menegaskan bahwa penguatan literasi, kapasitas analitis, dan kepemimpinan generasi muda menjadi prasyarat utama agar mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor dalam transformasi energi nasional.
Dari sektor industri, Agustina Mandayati yang mewakili PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut memaparkan transformasi bisnis hilir Pertamina dalam membangun ekosistem energi yang lebih andal dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa sektor hilir kini tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada distribusi energi konvensional, melainkan mulai beradaptasi dengan pengembangan energi bersih serta inovasi layanan berbasis keberlanjutan.
“Transformasi ini membuka peluang green jobs yang semakin luas. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan talenta muda yang adaptif dan inovatif,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu mempersiapkan diri dengan kompetensi multidisipliner, termasuk pemahaman teknologi energi baru terbarukan, manajemen risiko, serta aspek keberlanjutan dalam rantai pasok energi.
Dari sisi akademik, Dita Eka Pratiwi Sirait, S.E., M.Si., dosen ekonomi sekaligus Pembina Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Unimed, menyoroti pentingnya pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam sektor energi.
Ia menjelaskan bahwa penerapan prinsip ESG kini menjadi indikator utama daya saing dan ketahanan perusahaan, terutama di tengah tekanan pasar global yang semakin sensitif terhadap isu lingkungan dan tata kelola.
“Perusahaan energi yang tidak mengintegrasikan prinsip ESG berisiko kehilangan kepercayaan investor dan akses pendanaan. Karena itu, literasi keuangan berkelanjutan harus menjadi kompetensi dasar mahasiswa,” ujarnya.
Menurut Dita, transisi energi bukan hanya isu teknis, melainkan juga persoalan tata kelola, manajemen risiko, dan strategi pembiayaan jangka panjang.
Talkshow ditutup oleh Raden Haitami Abduh, S.Sos., penggiat energi muda, yang menegaskan sentralitas generasi muda dalam membangun kolaborasi lintas sektor.
Ia menilai pemuda memiliki posisi unik sebagai jembatan antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil. Dengan kreativitas, jejaring, dan adaptabilitas, mahasiswa dapat menjadi mitra strategis dalam merumuskan solusi energi yang inklusif dan berorientasi masa depan.
“Generasi muda bukan sekadar objek kebijakan, tetapi subjek yang harus dilibatkan dalam perumusan dan implementasi program prioritas energi berkelanjutan,” katanya.
Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi interaktif yang membahas tantangan konkret transisi energi di Sumatera Utara, mulai dari kesiapan infrastruktur, literasi publik, hingga peluang inovasi berbasis daerah.
Bagi DEM Sumut, forum ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang membangun ekosistem pengetahuan dan kolaborasi energi di tingkat regional.
Organisasi ini menegaskan bahwa investasi terbesar dalam transisi energi bukan hanya pada teknologi atau infrastruktur, melainkan pada kualitas sumber daya manusia.
Melalui inisiatif “Dari Kampus untuk Negeri”, DEM Sumut mengukuhkan komitmennya untuk mencetak pemimpin energi masa depan yang visioner, berintegritas, dan kompeten—sekaligus memastikan bahwa akselerasi transisi energi Indonesia berjalan efektif, adil, dan berpihak pada kepentingan publik.(DMN)
Editor :Dedek Muhammad Noor