Berdalih Timbangan Rusak, Bulog Rantauprapat Diduga Kurangi Takaran Beras Bantuan Sosial
Takaran Beras Bansos saat di investigasi
SIGAPNEWS.CO.ID | LABUHANBATU — Dugaan praktik pengurangan berat beras bantuan oleh Bulog Rantauprapat mencuat setelah tim Investigasi Korsa Sumut yang dipimpin MR melakukan pengecekan langsung di lapangan. Temuan tersebut berawal dari laporan masyarakat yang mencurigai adanya ketidaksesuaian takaran pada beras bantuan yang mereka terima.
MR mengungkapkan, setelah menerima informasi dari warga, pihaknya segera turun ke salah satu desa di Kabupaten Labuhanbatu Selatan untuk melakukan verifikasi. Ia menimbang ulang sejumlah karung beras bantuan yang telah dibagikan.
“Hasilnya sangat mencengangkan. Informasi yang kami terima benar adanya. Takaran beras per karungnya berkurang seberat 9.80 kilogram
,” ungkap MR.
Menurut MR, indikasi itu semakin menguat setelah timnya bergerak menuju gudang Bulog yang berada di Batu Sangkar, Rantau Selatan, Kabupaten Labuhanbatu. Di lokasi tersebut, tim Korsa Sumut menemukan sejumlah timbangan digital yang digunakan dalam proses pengemasan dan penimbangan beras bantuan. Namun, temuan itu memunculkan kejanggalan baru.
“Kami menemukan beberapa jenis timbangan digital di gudang Bulog, dan sebagian hasil pengujian kami menunjukkan kesesuaian dengan berat yang kami temukan di lapangan, yakni hanya sekitar 9,8 kilogram. Padahal seharusnya berat bersih yang diterima masyarakat adalah 10 kilogram,” tambah MR.
Kemudian, masih kata MR, Kepala gudang Bulog dijumpai MR mencoba mengklarifikasi dengan kata klasik menyebut salah satu timbangan yang diuji merupakan alat yang sudah rusak.
“Saat kita uji takaran di gudang Bulog, kepala gudang berdalih timbangan itu rusak. Ia kemudian menunjukkan timbangan lain yang diklaim sebagai alat yang masih layak,” jelas MR.
Atas kebenaran dugaan itu, Sigapnews mengkonfirmasi Kepala Bulog Rantauprapat, Lutfi Barus, membantah adanya praktik pengurangan takaran dalam penyaluran beras bantuan. Ia menegaskan bahwa seluruh proses operasional di gudang telah mengikuti prosedur standar, termasuk penggunaan timbangan yang telah melalui uji tera resmi.
“Di gudang kami selalu menggunakan timbangan yang sudah di-tera oleh pihak berkompeten, sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.Senin (24/11/25
Lutfi mengakui adanya timbangan digital rusak di gudang, namun ia menegaskan alat tersebut tidak lagi digunakan sebelum diperbaiki dan diuji ulang. Ia juga mengungkap bahwa ada sejumlah laporan mengenai karung beras dengan isi kurang yang ditemukan di titik bagi, namun hal itu menurutnya langsung ditindaklanjuti.
“Terkait beberapa karung beras yang ditemukan kurang di titik bagikan, sudah dilaporkan ke tim satgas kami. Kami sudah melakukan monitoring dan melakukan penggantian langsung di lokasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bulog Rantauprapat juga memaparkan sejumlah prosedur pengawasan yang diklaim sudah dilakukan sebelum beras disalurkan ke masyarakat:
1. Pengecekan rutin kuantitas dan kualitas oleh tim internal saat proses pengemasan.
2. Uji timbang dan pengecekan kualitas oleh Dinas Pangan di tiap kabupaten sebelum beras didistribusikan.
3. Timbang uji ulang oleh tim gudang dan pihak angkutan sebelum pemuatan beras ke kendaraan distribusi.
4. Penggantian langsung apabila ditemukan beras rusak, koyak, atau kurang saat pembagian di desa.
Namun saat dikonfirmasi kembali oleh sigapnews dengan mempertanyakan poin ke 3," danya timbang ulang saat di muat ke angkutan, ternyata masih terdapat pengurangan berat Boruto, Kepala Bulog memilih bungkam.
Senada, saat di komfimasi berapa karung beras yang diganti rugi, lagi lagi kepala Bulog Luffi diam seribu bahasa.
Meski pihak Bulog telah memberikan klarifikasi, temuan tim Korsa Sumut menambah panjang daftar pertanyaan publik terkait transparansi dan akurasi pendistribusian beras bantuan di wilayah tersebut.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan diperkirakan akan memicu langkah lebih lanjut dari pihak pengawas, aparat, maupun lembaga terkait untuk memastikan tidak adanya penyimpangan dalam distribusi bantuan sosial di Kabupaten Labuhanbatu dan sekitarnya.(D2)
Editor :Dedek Muhammad Noor